Sabtu, 17 November 2012

AAN SUBARHAN, S.PdI GURU INDONESIA

SAURI TELADAN 
METODE TERLUPAKAN DALAM PENDIDIKAN
oleh Aan Subarhan, S.PdI

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Idiom itu melekat kuat dalam
ingatan kita, bahwa ketika sudah menjadi guru maka siap-siaplah untuk
memberikan sekaligus mengandikan diri untuk mencerdaskan bangsa ini
dengan ikhlas tanpa harapan tanda jasa baik itu berupa bintang
dipundak ataupun lencana pengabdian. Disinilah letak kemuliaan seorang
guru baik dimata Tuhan maupun manusia. Hanya saja terkadang guru lupa
pada hakekat awalnya sebagai pendidik yang mana nilai keikhlasan dalam
mendidik terkadang terkalahkan oleh nilai-nilai pragmatisme hidupnya.
Lihat saja banyak diantara guru yanng lupa pada tugas awalnya sehingga
mereka malah enjoy dengan profesi-profesi yang lainnya. Ketika hal ini
ditanyakan pada guru maka ringan skali alibi yang diberikannya "guru
juga manusia" itu yang terucap dari mulutnya. Definisinya bahwa guru
juga butuh terhadap materi ataupun kepentingan-kepentingan yang
lainnya untuk menopang kehidupannya.



Pada awalnya alasan materi atapun penghasilan yang kurang cukup dipake
untuk membenarkan tindakan guru yang lupa pada tugas pokoknya sebagai
guru. Lihat saja banyak diantara guru selain mengajar ternyata mereka
juga punya akitfias ataupun profesi lain untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Ada yang menjadi pedagang, peternak, tukang ojeg ataupun
yang lainnya. Realita seperti ini yang sering menjadi kendala bagi
guru untuk memenuhi tugas pokoknya mendidik. Kitapun tidak bisa
menyalahkan guru kalau memang realitanya seperti ini. Justru kita
harus mampu memberikan solusi untuk mengatasi problem ini. Tujuannya
agar guru kembali ke rel yang merupakan tugas pokoknya sebagai
pendidik. Karena kalau hal ini tidak segera terselesaikan maka dunia
pendidikan kita akan semakin buram, tujuan bangsa kita sebagaimana
yang tercantumdalam UUD 1945 "mencerdaskan kehidupan bangsa" akan
sulit tercapai.

Bisa kita renungkan ketika konsentrasi guru terbagai dengan berbagai
aktifitas ataupun profesi yang lainnya, maka guru akan sulit seratus
persen mengabdikan dirinya. Ilmu ataupun pengalamannya sebagai guru
terkontaminasi oleh pikiran dan kebutuhan yang lainnya. Metode, Materi
ataupun teknis yang lainnya justru akan kabur seiring dengan penuhnya
otak guru untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dari segi materi. Taraf
hidup ataupun penghasilan guru harus segera ditingkatkan untuk mampu
memberikan pengabdian yang terbaik. Wajarlah sekarang kalau kata
Pengabdiannya ada embel-embelnya tergantung penghasilan, karena memang
kondisi zaman yang menuntutnya.

Realitas ini tidak bisa dipungkiri, sehingga menuntut pemerintah untuk
respek terhadap kondisi ini. Salah satu bentuk respon pemerintah
adalah dengan lahirnya UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.
Dengan Undang-Undang ini pemerintah berusaha meningkatkan
kesejahteraan guru dan dosen sekaligus juga berupaya meningkatkan
kualitasnya atau lebih dikenal dengan profesionalismenya. Dalam
Undang-undang tersebut dinyatakan bahwa guru dan dosen merupakan suatu
jabatan profesional yang berhak mendapatkan pengakuan sekaligus
perlindungan. Hal ini juga dibarengi dengan adanya peningkatan
penghasilan berupa Tunjangan Profesi untuk guru dan dosen sebesar satu
kali gaji. Selain dari aspek penghasilan maupun kesejahteraan dalam
Undang-undang tersebut juga dinyatakan bahwa dari segi kualitas
seorang guru dan dosen harus ditingkatkan. Aspek kompetensi dan aspek
akademik harus jadi salah satu syarat jabatan profesional. Nah
disinilah kembali seorang guru dituntut untuk basic to job sebagai
seorang pendidik untuk berusaha maksimal mengembalikan jati dirinya
dengan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalamannya. Guru saat ini
dituntut bergelar Strata Satu ( S.1 ) dan menguasai berbagai metode
pembelajaran yang inovatif.

Dengan adanya perhatian dari pemerintah tersebut, seharusnya saat ini
guru berlomba-lomba untuk mendapatkan sebutan profesional. Nah, telah
disebutkan bahwa guru tidak lagi berfikir kesejahteraan, memang yang
namanya manusia pasti akan merasa kurang terus tapi manusia bijak
tidak hanya menuntut hak akan tetapi harus siap memenuhi kewajibannya.
Disinilah guru harus membuktikan untuk memberikan kewajiban
mencerdaskan bangsa dengan berbagai metode pembelajarannya. Merujuk
kepada metode pembelajaran saat ini yang sesuai dengan kondisi zaman
terkadang guru lupa bahwa metode yang digunakan hanya bersifat tranfer
ilmu pengetahuan ataupun demokratis pendidikan. Anak dicekoki dengan
berbagai ilmu ataupun anak diberikan kebebasan mengekspresikan diri
untuk belajar sendiri.

Sehingga yang terjadi dengan penggunaan metode itu anak didik akan
terbebani dengan target yang ditentukan oleh guru ataupun anak didik
overlaping dalam pembelajaran yang terkadang melawan kepada guru.
Sebenarnya ada satu metode yang terlupakan oleh guru dalam mendidik
saat ini. Padahal justru metode ini meurpakan hakikat ataupun
filosofis pembelajaran bagi guru. Lihat saja hakekat kata guru adalah
"digugu dan ditiru", nah ini sebnarnya metode pembelajaran yang harus
lebih ditekankan dalam proses pendidikan kita. Lebih umumnya metode
yang diambil dari filosofis kata guru ini adalah "Metode Sauri
Teladan".

Berdasarkan pengalaman maupun hasil penelitian penggunaan Metode ini
akan lebih cepat dipahami sekaligus meresap langsung dalam ingatan
maupun benak anak didik. Guru tidak harus terus-terusan mencekoki anak
dengan ilmu-ilmu nalar yang hanya bisa mengisi otak anak didik, tapi
guru juga harus mampu mengisi intuisi dan pemahaman dalam hati anak.
Dengan metode Sauri Teladan ini, anak didik akan lebih mudah menerima
transper ilmu dari gurunya. Karena secara langsung ilmu yang
disampaikan oleh guru bisa terekspresikan dalam tingkah laku ataupun
contoh konkrit dari guru. Anak didik akan bisa melihat objek ilmu
secara langsung dari gurunya tidak sekedar ilmu-ilmu yang terucapkan.
Salah satu bukti kedahsyatan metode ini telah dibuktikan oleh
Rasulullah SAW yang jelas-jelas dalam mendidik umatnya menggunakan
Metode Sauri Teladan. Bahkan Rasulullah itu sendiri merupakan Sauri
Teladan yang baik. Artinya selain memang perlu dicontoh ternyata
apa-apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW juga patut kita contoh,
termasuk metode mendidiknya.

Jadi tidak sekedar bisa menerangkan ilmu ataupun mempraktekan sebuah
ilmu, akan tetapi seorang guru harus mampu mengaplikasikan ilmunya
baik sesudah maupun sebelum diajarkan kepada muridnya. Nah inilah yang
nanti akan menjadi cerminan bagi anak didik bahwa guru itu memang
layak mendapat gelar "Digugu dan Ditiru". Perlu prihatin kalau
ternyata dengan berbagai inovasi pembelajaran saat ini ternyata dunia
pendidikan jauh dari harapan kita. Banyak sekali anak didik yang hanya
penuh dengan ilmu tapi kosong intuisi atapun pemahaman yang melekat
kuat dalam dirinya. Sehingga terjadi penyimpangan-penyimpangan yang
dilakukan oleh anak didik, dari mulai pelecehan terhadap guru, bolos
sekolah ataupun bahkan tindakan kriminal lainnya.

Sudah saatnya kita menyadari kesalahan ataupun kealpaan kita dan
sesegera mungkin aplikasi dari UU No 14 Tahun 20005 Tentang Guru dan
Dosen bukan saja mengarah kepada profied oriented melainkan lebih dari
itu, setiap guru harus benar-benar meningkatkan profesionalismenya
dengan selalu ingat pada hakikat ataupun makna kata "Guru". Jadi
berikan Sauri Teladan yang baik bagi anak didik kita, baik dalam
proses pembelajaran maupun dilur proses pembelajaran.





Nama : AAN SUBARHAN, S.PdI
Alamat : Blok Cikedung RT. 003 RW. 006 Desa Maja Utara Kec. Maja Kab.
Majalengka Jawa Barat
Status : Honorer (Sekolah/Madrasah Swasta)
Tempat Bertugas/Mengajar : MTs Ma'arif Cikedung Maja
Lama Pengabdian : 6 Tahun

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar